Dengan ancang-ancang sejauh 15 meter dari bola, tendangan bebas Roberto Carlos melaju secepat 136,7 km/jam menuju gawang timnas Prancis. Layaknya Stade de Gerland, Fabien Barthez yang mengawal gawang Prancis hanya membeku bola yang melengkung secara ajaib. Di luar lapangan, riuh terabadikan melalui sorak Alan Parry dalam siniar Sky Sport, "Dear dear! I don't believe it, what a goal we have just seen from Roberto Carlos, that is amazing!"
Berkat tendangan bebas tersebut, sebuah turnamen persahabatan bertajuk Tournoi de France 1997 yang selayaknya mudah terlupakan, justru menjadi kekal dalam ingatan. Tendangan bebas tersebut, bersama dengan momen serupa lain sebelum atau setelahnya, menegaskan kemampuan Carlos sebagai pembeda dalam skema set-piece. Tak ayal jika Ia mampu berkembang menjadi salah satu (jika bukan satu-satunya) full-back paling produktif dalam generasinya.
Pada musim terproduktifnya (2000/01), Carlos berhasil mencetak 9 gol dari seluruh kompetisi di level klub, jauh melampaui full-back lainnya pada musim yang sama. Bahkan jika mengacu pada gelar individu, Carlos adalah full-back terbaik sepanjang masa dengan capaian peringkat duanya pada Ballon d’Or 2002. Keistimewannya dalam set-piece boleh jadi turut menetapkan syarat mutlak bagi full-back produktif pada masanya. Pasalnya, sistem permainan pada saat itu belum sepenuhnya mengakomodasi keterlibatan full-back dalam skema penyerangan, utamanya di sepertiga akhir lapangan.
Hingga kini, rasanya masih tak ada yang mampu mereplikasi kegemilangannya. Namun, sepak bola modern seakan punya cara unik untuk kembali melahirkan mesin pencetak gol dari posisi full-back, bahkan dengan capaian angka yang jauh lebih baik. Lalu, bagaimana sepak bola modern mampu melakukannya? Jawaban atas pertanyaan tersebut yang kemudian akan menjelaskan mengapa pemenang Ballon d’Or berikutnya mungkin adalah seorang full-back.
Bagaimana Full-Back Berevolusi?
Pada abad ke-20, full-back lazim diposisikan sebagai pemain paling belakang dalam struktur permainan. Dalam formasi 2-3-5 yang umum digunakan pada saat itu, letaknya tepat berada di belakang 3 half-back, sebelum bergerser ke samping pada formasi 4 bek. Boleh jadi, konsiderasi pola permainan yang tak begitu dinamis pada saat itu, full-back adalah posisi paling membosankan di lapangan. Stigma tersebut terkonfirmasi, bahkan satu abad setelahnya, salah satunya melalui Jamie Carragher pada 2013, “A full-back (is) either a failed winger or a failed centre-back.”
Walaupun dimaksudkan sebagai gurauan, pernyataan Carragher uniknya cukup merepresentasikan situasi yang kompleks dari peran seorang full-back satu dekade setelahnya. Kini, seorang full-back tidak hanya menjelma menjadi winger atau centre-back, tetapi juga midfielder, atau bahkan striker.
Pada era modern, integrasinya dengan winger menjadi salah satu faktor utama evolusi. Untuk mengakomodasi winger yang bergerak ke tengah (inverted), full-back dituntut melakukan overlaping untuk menjaga kelebaran di final third. Peran ini memungkinkan seorang full-back terlibat lebih jauh dalam skema penyerangan, baik melalui crossing maupun upaya langsung ke gawang. Imbasnya, full-back menjadi sangat produktif, seperti Dani Alves yang berhasil mencatatkan total 83 G/A dalam empat musim pertamanya di Barcelona (Shahine, 2022).
Mekanisme serupa pun kerap diterapkan di Liga Inggris, puncaknya musim 2018/2019 berhasil memecahkan rekor assist terbanyak sepanjang sejarah oleh wide defender sejumlah 135 (Clarke, 2019). Bahkan, pada skema 3 bek, perannya dalam bertahan dapat dikurangi sehingga membuatnya lebih mematikan dalam skema penyerangan. Misalnya, Gian Piero Gasperini sukses memaksimalkan peran Robin Gosens yang mampu mencetak 11 gol dan 8 assists pada musim terbaiknya (2020/21).
Tak berhenti pada winger, eksplorasi perannya turut menjamah sisi tengah dari permainan melalui peran inverted full-back. Peran ini punya maksud yang berkebalikan dari attacking full-back pada umumnya yang bertujuan mengakomodasi winger yang bergerak ke tengah. Pada skema ini, umumnya winger diposisikan melebar. Dalam posisi tersebut, full-back bergerak ke tengah untuk mengisi posisi gelandang bertahan (Shahine, 2022). Situasi ini berimplikasi pada dua keuntungan, yaitu kemudahan mengontrol permainan dengan unggulnya jumlah pemain di area tengah, serta meminimalisasi risiko serangan balik pada fase penyerangan.
Skema ini secara konsisten diutilisasi oleh Pep Guardiola pada saat menukangi Bayern Munchen dan Manchester City. Di Bayern, untuk memaksimalkan keunggulan duet Arjen Robben dan Frank Ribery di sisi sayap, Philipp Lahm dan David Alaba ditugaskan mengisi peran inverted. Sementara itu, di Manchester City, Guardiola turut mengandalkan inverted full-back guna memaksimalkan performa gelandang kreatifnya seperti Kevin De Bruyne. Selain Guardiola, skema ini juga lazim digunakan oleh beberapa pelatih terkemuka lainnya, seperti Juergen Klopp melalui Trent Alexander-Arnold di Liverpool ataupun Mikel Arteta melalui Oleksandr Zinchenko di Arsenal (CV, 2022).
Antitesis Inverted Full-back, Kemunculan Roaming Full-back
Namun, pada beberapa musim terakhir, skema inverted full-back seakan menemukan antitesisnya. Logika overload area tengah melalui peran tersebut menjadi lebih mudah diprediksi dan dapat diantisipasi melalui struktur bertahan man-to-man di area yang sama melalui formasi tradisional seperti 4-4-2 (Smith, 2024). Artinya, tim lawan akan cenderung membiarkan serangan hanya terjadi melalui sisi lebar sehingga menghambat upaya serang yang dilakukan. Tanpa adanya winger dengan kemampuan istimewa, penyerangan tidak akan berkembang secara signifikan.
Pada akhirnya, kemunculan antitesis atas sebuah inovasi ini yang justru menghadirkan berkah bagi para penikmat sepak bola. Pasalnya, keterbatasan ini kemudian melahirkan evolusi baru dari seorang full-back, yaitu full-back yang secara aktif beroperasi bebas pada area tengah dan final third, atau (mengutip The Athletic) disebut sebagai roaming full-back. Secara sederhana, peran ini menjadi solusi atas semakin masifnya penggunaan skema bertahan man-to-man. Sesuai dengan konsep third-man principle, peran ini berupaya memberikan opsi penyerang tambahan yang tidak terkawal, utamanya pada area final third.
Kemunculan ini dapat diamati sejak gelaran Piala Dunia Antarklub pada 2025 lalu. Laporan FIFA (2025) membuktikan bahwa full-back rata-rata menerima bola pada jarak 10 meter dari garis pinggir lapangan—lebih sempit dari rata-rata 9 m pada Piala Dunia 2022. Bukti ini mengindikasi full-back yang bergerak semakin jauh dari area tradisionalnya. Menariknya, ditemukan pula pola serupa antarfinalis dalam hal penggunaan full-back. Chelsea seringkali menempatkan Marc Cucurela pada posisi yang sangat tinggi, bahkan berada di atas Enzo Fernandez sebagai gelandang bertahan (FIFA, 2025). Sementara itu, PSG tampil lebih berani dengan menempatkan kedua full-back-nya (Achraf Hakimi dan Nuno Mendes) tepat di belakang striker (FIFA, 2025). Pola tersebut memungkinkan Achraf Hakimi tampil gemilang sebagai pemain paling produktif dari PSG dengan catatan 4 G/A.
Terbaru, Piala Dunia 2026 turut menghadirkan informasi berarti. Berdasarkan catatan Tharme (2026), full-back menyentuh bola di kotak penalti setiap 56 menit—jauh lebih sering daripada 83 menit pada Piala Dunia 2022 dan 97 menit pada Piala Dunia 2018. Kasus menarik juga dapat ditemukan pada Timnas Maroko. Achraf Hakimi seringkali berada di posisi terdepan dibanding rekannya, bahkan jumlah tembakannya pada fase grup menyamai penyerang Ismael Saibari dengan total 10 tembakan. Pada golnya ke gawang Haiti, progresivitasnya memungkinkan ia mampu memanfaatkan bola kedua di kotak penalti setelah sebelumnya juga memulai serangan dari posisi aslinya pada rangkaian yang sama. Skema serupa juga diterapkan oleh Kolombia melalui inside run dari Daniel Munoz yang berakhir pada gol penentu melawan DR Kongo pada fase grup.
Tim Eropa pun tak ketinggalan dalam menerapkan skema serupa pada full-back-nya. Belgia salah satu tim tersebut. Pada pertandingan melawan Iran, Maxim De Cuyper tercatat berulang kali masuk ke kotak penalti lawan dan berhasil mencatatkan 5 tembakan, sama dengan Kevin De Bruyne. Selain Belgia, Sang Juara Dunia, Spanyol, turut mengeksploitasi kualitas kedua full-back-nya dalam menjalankan peran ini. Terbukti, pada banyak kesempatan Marc Cucurela berada pada kotak penalti dan hampir menciptakan peluang berharga. Bahkan, Pedro Porro berhasil mengonversi skema tersebut menjadi sebuah gol krusial tanpa adanya kawalan berarti dalam laga semifinal menghadapi Prancis.
Mengapa Pemenang Ballon d'Or Berikutnya Seorang Full-back?
Inovasi taktik dalam bentuk roaming full-back ini menegaskan tuntutan yang semakin besar bagi seorang full-back. Posisi yang beberapa dekade lalu hanya berorientasi pada tingkat disiplin untuk menjaga lini pertahanan dari penyerang sayap, kini rasanya berorientasi pada semua aspek dalam sepak bola. Mengonsiderasi tuntutan untuk bertahan, menjaga tempo, serta menyerang, tidak salah jika menyebut bahwa seorang full-back adalah pemain paling versatile (jika bukan yang terbaik) di lapangan pada saat ini.
Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya dua kemungkinan: seleksi natural yang membuat full-back hanya diisi oleh pemain-pemain terbaik, atau tuntutan posisi full-back yang menekan pemain untuk berevolusi menjadi versi terbaiknya. Apa pun itu, keduanya sama-sama memberikan bobot yang signifikan dalam peningkatan kualitas permainan.
Barangkali rivalitas Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi dalam perolehan Ballon D’or nyatanya tidak akan digantikan oleh penyerang andal seperti Kylian Mbappe, Erling Haaland, Ousmane Dembele, atau bahkan Lamine Yamal, tetapi oleh full-back komplet seperti Marc Cucurela, Nuno Mendes, Achraf Hakimi, dan nama lainnya pada masa yang akan datang.
Penulis: Izza Maulana Rizqi (IG: @izzamrizqi), Asisten Peneliti, Institute for Economic and Social Research, University of Indonesia (LPEM FEB UI), Bekasi, Indonesia
